pertanian

Percepatan Irigasi Pertanian Dorong Ketersediaan Air dan Produktivitas Petani

Percepatan Irigasi Pertanian Dorong Ketersediaan Air dan Produktivitas Petani
Percepatan Irigasi Pertanian Dorong Ketersediaan Air dan Produktivitas Petani

JAKARTA - Ketersediaan air irigasi menjadi fondasi penting dalam meningkatkan produksi padi nasional. 

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menekankan bahwa percepatan rehabilitasi jaringan irigasi pertanian merupakan strategi utama untuk memastikan swasembada beras Indonesia tetap terjaga.

 “Faktor penentu keberhasilan ada pada peningkatan benih dan pupuk, juga dalam ketersediaan air,” kata Amran.

Fondasi Strategis Produksi Pangan

Mentan Amran menjelaskan bahwa percepatan rehabilitasi irigasi bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan fondasi jangka panjang dalam produksi pangan.

Ketersediaan air yang terencana dan terkelola memungkinkan petani meningkatkan produktivitas, mengoptimalkan masa tanam, dan meminimalkan risiko gagal panen akibat kekeringan di musim kemarau.

Didukung penguatan infrastruktur air, kinerja pangan nasional menunjukkan tren positif. Produksi beras pada 2025 diproyeksikan mencapai 34,79 juta ton, sementara stok cadangan beras pemerintah (CBP) menyentuh 3,3 juta ton pada awal 2026.

Fokus Infrastruktur Irigasi dan Kesejahteraan Petani

Amran menegaskan, “Salah satu fokus utama yang terus didorong adalah penguatan infrastruktur pertanian, khususnya jaringan irigasi, sebagai penopang keberlanjutan produksi sekaligus peningkatan kesejahteraan petani.”

Pengelolaan air yang tepat juga menjadi faktor krusial. Dengan sistem irigasi yang handal, petani dapat menyesuaikan waktu tanam, mengurangi ketergantungan pada curah hujan, dan memaksimalkan hasil panen. Hal ini berdampak langsung pada kesejahteraan petani sekaligus menjamin ketahanan pangan nasional.

Pembangunan dan Rehabilitasi Irigasi Masif

Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Hermanto, menjelaskan bahwa sepanjang 2025 pemerintah terus melakukan pembangunan, peningkatan, rehabilitasi, serta operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi secara masif dan terintegrasi. 

Langkah ini mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan irigasi untuk mendukung swasembada pangan nasional.

“Dengan adanya Inpres Nomor 2 Tahun 2025, pemerintah mempercepat perbaikan dan rehabilitasi infrastruktur irigasi pada daerah irigasi yang sekitar 60 persen kondisinya kurang optimal dalam menyediakan air bagi persawahan,” jelas Hermanto.

Capaian Tahap Pertama hingga Ketiga

Realisasi rehabilitasi irigasi Indonesia menunjukkan angka yang menggembirakan:

Tahap pertama: target 280.880 hektare, terealisasi 99,93 persen.

Tahap kedua: target 225.775 hektare, capaian jaringan irigasi utama 83,46 persen, jaringan tersier 98,66 persen, dan pembangunan serta rehabilitasi JIAT 92,25 persen.

Tahap ketiga: target 146.503 hektare, realisasi jaringan utama 67,67 persen, jaringan tersier 87,57 persen, dan JIAT 93,91 persen.

Hermanto menekankan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras bersama dan sinergi dengan berbagai pihak.

Sinergi Lintas Kementerian dan Pemerintah Daerah

Koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum, khususnya Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) dan BBWS/BWS di daerah, menjadi kunci percepatan rehabilitasi irigasi. 

Hermanto menambahkan, “Capaian ini merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi lintas sektor, khususnya bersama Kementerian Pekerjaan Umum, serta dukungan kuat dari pemerintah daerah.”

Kolaborasi ini memastikan setiap proyek irigasi berjalan sesuai target, tepat waktu, dan berdampak langsung pada peningkatan produktivitas pertanian.

Keberlanjutan Produksi dan Swasembada Pangan

Implementasi Inpres 2 Tahun 2025 akan terus diperkuat melalui kegiatan strategis tambahan, seperti optimasi lahan dan cetak sawah rakyat di seluruh wilayah Indonesia. Langkah ini menunjukkan komitmen Kementerian Pertanian untuk menegaskan jalan Indonesia menuju swasembada pangan berkelanjutan.

Dengan infrastruktur irigasi yang optimal, setiap musim tanam dapat diatur secara efisien, meminimalkan ketergantungan pada curah hujan, dan memastikan produksi beras nasional stabil setiap tahun.

Dampak Langsung bagi Petani

Peningkatan kualitas irigasi memberikan manfaat langsung bagi petani, termasuk:

Pengaturan waktu tanam lebih fleksibel

Reduksi risiko kekeringan dan gagal panen

Produktivitas sawah meningkat signifikan

Pendapatan petani lebih stabil

Amran menegaskan bahwa keberhasilan rehabilitasi irigasi juga mendukung kesejahteraan petani dan ketahanan pangan nasional.

Tantangan dan Strategi Ke Depan

Meskipun capaian sudah signifikan, tantangan tetap ada, terutama terkait pemeliharaan jaringan irigasi agar tetap berfungsi optimal. Pemerintah mendorong pengelolaan air berbasis teknologi, monitoring real-time, dan keterlibatan masyarakat lokal untuk menjaga jaringan irigasi secara berkelanjutan.

Optimasi lahan dan cetak sawah baru juga menjadi strategi jangka panjang untuk memastikan swasembada beras Indonesia.

Percepatan rehabilitasi irigasi bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi strategi nasional untuk menjamin swasembada pangan. Dengan dukungan benih, pupuk, dan pengelolaan air yang baik, produksi beras nasional dapat meningkat signifikan. 

Sinergi antara Kementerian Pertanian, Kementerian Pekerjaan Umum, pemerintah daerah, dan petani menjadi kunci keberhasilan menuju Indonesia mandiri pangan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index